Hari Kanker Anak Sedunia 15 Februari 2020

Jakarta, PP PDUI – Setiap Tahun tepat di Tanggal 15 Februari diperingati Hari Kanker Anak Sedunia. Momentum ini digunakan sebagai sarana untuk mengajak seluruh masyarakat agar memiliki perhatian besar terhadap penyakit kanker khususnya pada anak, juga untuk memberikan dukungan kepada anak-anak pasien kanker agar tetap kuat dan bertahan dalam melawan penyakitnya. Selain itu besar harapan agar Indonesia bisa menekan penyakit tersebut agar tidak semakin banyak anak yang terjangkit kanker.

Faktanya penyakit kanker tak hanya menyerang orang dewasa tapi juga anak-anak. Seperti yang tercatat oleh WHO bahwa Kanker terjadi pada lebih dari 300.000 anak setiap tahun di seluruh dunia dan 90.000 di antaranya meninggal dunia. Angka kematian akibat kanker anak mencapai 50-60 persen karena umumnya penderita datang terlambat atau sudah dalam stadium lanjut akibat gejala kanker yang sulit terdeteksi. Pada Tahun 2019 saja, sekitar 31.500 pasien, termasuk hampir 2000 anak-anak terdiagnosis kanker. Diperkirakan angka ini akan terus meningkat jika tidak ada tindakan dan kontrol yang cepat dan tepat.

Studi yang telah dilakukan tentang kasus kanker anak menunjukkan adanya ketimpangan yang besar di antara negara-negara. Anank-anak yang mengidap kanker di negara-negara dengan Index Pembangunan Manusia (HDI) rendah dan sedang secara signifikan lebih kecil peluang mendapatkan akses perawatan dan menerima pengobatan yang efektif.

Berdasarkan Departemen Kesehatan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, terdapat 6 jenis kanker yang sering menyerang anak-anak, yaitu Leukemia, Retinoblastoma, Osteosarkoma, Neuroblastoma, Limfoma Maligna, dan Karsinoma Nasofaring. Leukemia merupakan kanker tertinggi pada anak (2,8 per 100.000), dilanjutkan oleh retinoblastoma (2,4 per 100.000), osteosarkoma (0,97 per 100.000), limfoma maligna (0,75 per 100.000), karsinoma nasofaring (0,43 per 100.000), dan neuroblastoma (10,5 per 1.000.000).

Meskipun kanker pada anak hanya menyumbang 3-5% dari semua kasus kanker, akan tetapi membutuhkan pendekatan khusus dalam penanganannya. Karena kanker pada anak sering terdeteksi secara tiba-tiba tanpa ada gejala signifikan, sedangkan fasilitias kesehatan yang bisa menangani kejadian tersebut masih relatif sedikit. Kanker pada anak berbeda dengan kanker pada orang dewasa, kanker pada anak lebih sulit diketahui karena anak-anak pada umumnya belum mampu untuk menjelaskan keluhan yang dirasakan. Sehingga sebagai orang tua/dewasa merupakan suatu kewajiban untuk mengenali tanda dan gejala kanker pada anak, agar dapat dilakukan penanganan segera dan tingkat kesembuhan menjadi lebih besar.